News Rantau – Dalam beberapa tahun terakhir, rokok elektrik atau vape semakin digemari, terutama di kalangan anak muda. Banyak yang beranggapan bahwa vape lebih aman dibanding rokok konvensional karena tidak mengandung tar hasil pembakaran. Namun, penelitian terbaru pada 2025 menunjukkan bahwa dampak buruk vape tidak kalah serius.

Selain merusak paru-paru, penggunaan Roko elektril ternyata juga berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit diabetes tipe 2. Temuan ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa vape hanyalah “alternatif sehat” dari rokok.
Baca Juga : Kopi Bisa Kurangi Kekuatan Antibiotik
Efek Langsung pada Paru-Paru
Berbagai studi sudah membuktikan bahwa vape dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, penurunan fungsi paru, hingga meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kandungan nikotin cair dan bahan kimia lain dalam cairan vape bisa menimbulkan peradangan yang berdampak jangka panjang.
Dokter paru-paru di Indonesia juga melaporkan peningkatan kasus pasien muda yang mengalami batuk kronis dan sesak napas akibat kebiasaan vaping. Ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat, terutama generasi muda yang terlanjur menganggap vape sebagai gaya hidup modern.
Hubungan Vape dan Diabetes
Yang mengejutkan, penelitian terbaru tahun 2025 menemukan kaitan erat antara konsumsi vape dengan peningkatan kadar gula darah. Nikotin dalam cairan vape diketahui dapat memengaruhi sensitivitas insulin, sehingga tubuh lebih rentan mengalami resistensi insulin — faktor utama penyebab diabetes tipe 2.
Selain nikotin, bahan kimia tambahan seperti propilen glikol dan perasa buatan juga diduga ikut berperan dalam meningkatkan risiko sindrom metabolik. Jika kebiasaan vaping dilakukan dalam jangka panjang, kemungkinan terkena diabetes akan semakin besar.
Dampak Ganda pada Kesehatan
Kombinasi antara gangguan paru-paru dan risiko diabetes membuat vape sangat berbahaya. Dua penyakit ini sama-sama kronis, membutuhkan pengobatan jangka panjang, dan bisa menurunkan kualitas hidup secara drastis.
“Vape bukan solusi untuk berhenti merokok. Justru bisa menambah masalah kesehatan baru, termasuk diabetes,” tegas seorang dokter spesialis penyakit dalam.
Pentingnya Edukasi dan Pencegahan
Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu lebih kritis dalam menyikapi tren vaping. Edukasi kesehatan harus digencarkan agar masyarakat memahami risiko yang ditimbulkan. Tidak hanya orang tua dan sekolah, tetapi juga komunitas dan pemerintah harus ikut terlibat dalam kampanye anti
Bagi mereka yang sudah terlanjur kecanduan, konsultasi ke dokter untuk program berhenti nikotin sangat dianjurkan. Ada berbagai terapi pengganti nikotin maupun konseling perilaku yang bisa membantu mengurangi ketergantungan.
Penutup
Efek merokok Elektik ternyata jauh lebih luas daripada yang dibayangkan. Bukan hanya merusak paru-paru, tetapi juga meningkatkan risiko diabetes yang membahayakan tubuh. Dengan temuan baru ini, masyarakat diharapkan tidak lagi memandang. sebagai alternatif aman dari rokok.
Kesehatan jangka panjang lebih berharga daripada sekadar tren gaya hidup. Saatnya berhenti vaping sebelum terlambat.








